728 x 90

WAKIL MENTERI KKP APRESIASI CHAMPION PESISIR DI IWC11, GEF-6 CFI INDONESIA TAMPILKAN BUKTI DAMPAK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

BALI, 19 Oktober 2026 — Di tengah pertemuan lebih dari 400 delegasi internasional dalam 11th Global Environment Facility (GEF) Biennial International Waters Conference (IWC11), dua perempuan pesisir Indonesia membawa cerita tentang perubahan yang tumbuh dari masyarakat. Sri Fani Moni dan Sintawati, champion binaan GEF-6 CFI Indonesia, menunjukkan bahwa pendampingan yang tepat dapat memperkuat kapasitas individu, menggerakkan kelompok, dan membuka peluang bagi kampung nelayan.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., bersama Director WWF-US GEF Agency, Heike Lingertat, mengunjungi booth pameran produk kelompok binaan dan Knowledge Management GEF-6 CFI Indonesia dalam rangkaian 11th Global Environment Facility (GEF) Biennial International Waters Conference (IWC11) di Bali, 19–22 Oktober 2026. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil pemberdayaan masyarakat pesisir, pengembangan produk unggulan kelompok binaan, serta praktik baik pengelolaan perikanan berkelanjutan yang dikembangkan GEF-6 CFI Indonesia.

Kehadiran keduanya mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., yang menilai para champion dapat menjadi teladan bagi komunitas lain, khususnya perempuan dan masyarakat pesisir yang menghadapi berbagai keterbatasan.

“Saya sangat senang hari ini bertemu dengan para champion, mereka yang kemudian bisa menjadi contoh bagi komunitas. Di tengah keterbatasan, mereka menemukan solusi-solusi baru yang bermanfaat bagi komunitas,” ujarnya dalam rangkaian IWC11 di Bali, 19–22 Oktober 2026.

Ia berharap model pemberdayaan yang didukung melalui kerja sama GEF dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dapat diperluas agar semakin banyak masyarakat memperoleh kesempatan untuk berkembang.

“Kami berharap model ini direplikasi ke banyak ibu rumah tangga dan komunitas, terutama di wilayah pesisir, sehingga mereka dapat mengubah nasibnya dan menjadi bagian penting dari kemajuan Indonesia di masa depan,” tambahnya.

Ekonomi Biru dan Keterhubungan Ekosistem

Dalam sambutan pembukaan IWC11, Wakil Menteri KKP juga menegaskan pentingnya memandang sungai, wilayah pesisir, dan laut sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling terhubung. Menurutnya, kesehatan laut tidak dapat dipisahkan dari kesehatan sungai dan masyarakat yang bergantung pada sumber daya perairan.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., menyampaikan sambutan pada pembukaan IWC11 di Bali, 19–22 Oktober 2026, dengan menekankan pentingnya kolaborasi global untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perairan.

Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan kekayaan keanekaragaman hayati laut, memiliki tanggung jawab besar untuk mengelola sumber daya tersebut secara berkelanjutan. Melalui kebijakan Ekonomi Biru, pengelolaan kelautan dan perikanan diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi sekaligus menjaga ekosistem.

Dalam konteks tersebut, Wakil Menteri KKP menyoroti kontribusi GEF-6 CFI Indonesia melalui pendekatan Sasi Co-Management yang menghubungkan kearifan lokal, praktik perikanan berkelanjutan, dan peluang ekonomi masyarakat.

Pesan tersebut memperkuat relevansi pemberdayaan masyarakat dalam agenda global pengelolaan perairan. Perlindungan ekosistem tidak cukup dilakukan melalui kebijakan dan intervensi teknis, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama yang menjaga sumber daya sekaligus menggantungkan kehidupannya pada sumber daya tersebut.

Membuktikan Perubahan, Bukan Sekadar Melaporkan Kegiatan

Bagi Project Manager PMU GEF-6 CFI Indonesia, Dr. Adipati Rahmat, menghadirkan Sri Fani Moni dan Sintawati di forum internasional bukan sekadar memberikan kesempatan kepada penerima manfaat untuk berbagi cerita. Lebih dari itu, keduanya menjadi bukti langsung bahwa pendampingan sejak 2022 telah menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.

“Yang mendasari kami memberangkatkan rekan-rekan champion kita adalah untuk menunjukkan bukti. Bukti bahwa proyek ini memberikan dampak di wilayah masing-masing, baik bagi diri mereka sendiri, kelompok binaan, maupun kampung nelayan mereka,” kata Adipati.

Project Manager PMU GEF-6 CFI Indonesia, Dr. Adipati Rahmat, mendorong champion dari kelompok binaan untuk berpartisipasi dalam IWC11 sebagai ajang berbagi pengalaman dan memperkenalkan praktik baik pemberdayaan masyarakat pesisir di tingkat global.(9/10)

Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup disampaikan melalui laporan atau angka kegiatan. Perubahan perlu terlihat dari meningkatnya kemampuan masyarakat, tumbuhnya kepercayaan diri, serta kemampuan mereka mengembangkan solusi bagi lingkungan dan kelompoknya.

Di IWC11, kedua champion berkesempatan menyampaikan pengalaman di hadapan peserta dari berbagai negara. Mereka juga belajar berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara mandiri. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis atau pengembangan usaha, tetapi juga keberanian untuk tampil, berbagi pengetahuan, dan membangun jejaring.

“Bagi kami, mereka benar-benar champion. Mereka menjadi wakil proyek yang dapat menunjukkan pembeda melalui pengalaman dan perubahan nyata,” ujar Adipati.

IWC11 Perkuat Kolaborasi Menjaga Perairan Dunia

IWC11 mengusung tema “Shared Waters, Transformative Solutions: Enabling Systems Change”. Forum ini mempertemukan pemerintah, organisasi internasional, lembaga pembangunan, ilmuwan, dan mitra masyarakat untuk mencari solusi bersama atas tantangan pengelolaan sungai, danau, pesisir, dan laut.

Pencemaran, kehilangan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, serta meningkatnya tekanan terhadap sumber daya air tidak dapat diselesaikan secara terpisah. Pendekatan Source-to-Sea menjadi penting karena menghubungkan pengelolaan wilayah daratan dengan kesehatan ekosistem pesisir dan laut.

Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa krisis perairan membutuhkan solusi transformatif yang menyatukan kebijakan, inovasi, pembiayaan berkelanjutan, dan tata kelola lintas batas.

Pesan tersebut sejalan dengan pandangan para mitra internasional. Perwakilan UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella, menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, kelembagaan yang kuat, prioritas bersama, dan investasi. Sementara itu, Direktur Intergovernmental Oceanographic Commission UNESCO, Julian Barbière, menyoroti peran ilmu pengetahuan, pengetahuan lokal, dan inovasi dalam menjawab tantangan kelautan.

CEO sekaligus Chairperson GEF, Diego Mesa Puyo, juga menekankan perlunya kerja sama pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menjaga keterhubungan ekosistem perairan. Pembelajaran dari IWC11 diharapkan menjadi bekal dalam memperkuat kolaborasi menuju siklus pendanaan GEF berikutnya, GEF-9.

Kearifan Lokal, Peluang Ekonomi, dan Keberlanjutan Pesisir

GEF-6 CFI Indonesia mengembangkan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 715, 717, dan 718. Pendekatan ini menghubungkan keberlanjutan sumber daya ikan dengan penguatan tata kelola, kapasitas masyarakat, dan pengembangan usaha pesisir.

Salah satu praktik yang diperkenalkan dalam rangkaian IWC11 ialah Sasi Co-Management dan Sasi Label. Keduanya menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat mendukung pengelolaan sumber daya laut sekaligus meningkatkan nilai tambah produk perikanan.

Melalui penguatan aturan lokal, pengawasan, ketertelusuran produk, dan pengembangan akses pasar, praktik tersebut membuka peluang agar masyarakat tidak hanya menjaga sumber daya, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan yang bertanggung jawab.

Foto: Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., bersama Director WWF-US GEF Agency, Heike Lingertat, berfoto bersama champion kelompok binaan dan Tim PMU GEF-6 CFI Indonesia dalam rangkaian kegiatan IWC11 di Bali.

Pendekatan ini sejalan dengan pesan Wakil Menteri KKP bahwa pengelolaan perairan harus mengintegrasikan perlindungan ekosistem dengan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, konservasi dan pembangunan ekonomi tidak perlu berjalan berlawanan, melainkan dapat saling memperkuat.

Adipati mengungkapkan, partisipasi Indonesia dalam konferensi ini juga merupakan hasil proses panjang. Gagasan tersebut mulai dirintis ketika tim menghadiri International Waters Conference di Uruguay sekitar dua tahun sebelumnya. Dari tim kecil, kolaborasi berkembang dengan dukungan perguruan tinggi, kementerian, pemerintah daerah, dan masyarakat.

“Kami hanya sekitar sepuluh orang. Namun, dengan dukungan mitra dari perguruan tinggi, kementerian, pemerintah daerah, dan terutama masyarakat itu sendiri, kami menjadi sebuah entitas yang jauh lebih besar,” tuturnya.

Melanjutkan Dampak Setelah Proyek Berakhir

Menjelang penutupan GEF-6 CFI Indonesia pada 31 Desember 2026, keberlanjutan hasil menjadi perhatian penting. Pendampingan perlu dilanjutkan melalui kemitraan, penguatan kelompok, pengembangan usaha, dan perluasan akses pasar agar perubahan yang telah dibangun tidak berhenti bersama berakhirnya proyek.

Adipati menegaskan bahwa capaian program merupakan hasil kerja bersama seluruh pemangku kepentingan, bukan semata-mata kerja tim pelaksana.

“Ini bukan sekadar tentang mendapatkan kegiatan baru, tetapi tentang melanjutkan mimpi yang masih bisa kita bangun bersama-sama,” katanya.

Apresiasi Wakil Menteri KKP terhadap Sri Fani Moni dan Sintawati memperkuat pesan bahwa masyarakat pesisir bukan hanya penerima manfaat program, melainkan pelaku utama perubahan.

Melalui IWC11, GEF-6 CFI Indonesia membawa pembelajaran bahwa solusi bagi keberlanjutan perairan harus dibangun melalui kolaborasi, kearifan lokal, dan pemberdayaan yang menghasilkan bukti nyata. Ketika masyarakat memiliki kapasitas dan kesempatan untuk berkembang, upaya menjaga ekosistem dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan.

Sebagaimana ditekankan dalam sambutan pembukaan IWC11, masa depan perairan membutuhkan kerja bersama untuk menghubungkan negara, ekosistem, dan komunitas dari sungai hingga laut. Bagi GEF-6 CFI Indonesia, prinsip tersebut menjadi landasan untuk meneruskan hasil pendampingan, memperkuat kemitraan, dan memperluas manfaat pengelolaan perikanan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

0 COMMENTS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments