cfi-indonesia.id. Ambon, 12–15 Agustus 2025 — Dalam upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) sektor perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ambon bekerja sama dengan GEF 6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia melaksanakan kegiatan Training of Trainers (TOT) Champion Nelayan. Kegiatan ini bertujuan membekali para nelayan kecil dengan keterampilan teknis dan menjadi agen perubahan di daerah masing-masing.
Kegiatan TOT berlangsung selama empat hari dan diikuti oleh sekitar 30 nelayan terpilih dari sentra-sentra nelayan di wilayah Maluku, Papua Barat dan Papua Barat Daya, dua diantaranya Nelayan Perempuan. Materi pelatihan mencakup perbaikan mesin tempel kapal, perakitan alat tangkap ramah lingkungan, dan penggunaan teknologi navigasi seperti GPS dan fishfinder.
Foto bersama peserta dan narasumber kegiatan TOT Champion Nelayan Dalam Bidang Perbaikan Mesin Kapal Perikanan, Perakitan Alat Tangkap dan Penggunaan GPS di PPN Ambon, Provinsi Maluku
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku, Erawan Asikin, setelah sambutan dari Kepala PPN Ambon dan perwakilan PMU GEF 6 CFI Indonesia. Dalam sambutannya, Kepala PPN Ambon, Jafar Sahubawa, menekankan bahwa peserta kegiatan merupakan calon pelatih yang nantinya akan menjadi champion di daerah masing-masing, menyebarluaskan pengetahuan dan keterampilan yang didapat selama pelatihan.
Sementara itu, Kepala DKP Maluku menyoroti pentingnya pemahaman regulasi operasional dan perizinan, serta penempatan alat bantu penangkapan ikan seperti rumpon secara legal. Ia berharap, pelatihan ini tidak hanya menguatkan aspek teknis, tetapi juga meningkatkan kepatuhan terhadap aturan perikanan.
Penyerahan Buku Pelaut dan Seminar Kit secara Simbolis bagi Nelayan atau Awak Kapal Perikanan
Materi Pelatihan dan Praktik Lapangan
Pelatihan terdiri dari sesi teori dan praktik. Hari pertama difokuskan pada pengenalan materi dan pembukaan simbolis dengan penyerahan buku pelaut serta seminar kit kepada peserta. Hari kedua, peserta mengikuti praktik perawatan dan perbaikan mesin tempel, didampingi langsung oleh tim Yamaha dan Suzuki serta instruktur dari Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Semarang.
Stefan Hans, dari Yamaha Marine, memberikan arahan teknis dalam membongkar dan merawat mesin 15 PK. Ia menekankan pentingnya perawatan mandiri oleh nelayan untuk menghemat biaya dan meningkatkan keselamatan di laut. Perwakilan Suzuki, Rullyanto Fransiscus, juga menyatakan apresiasinya terhadap pelatihan ini karena membantu nelayan mengatasi kendala teknis secara langsung di lapangan.
Peserta Mengikuti Praktik Langsung Perbaikan Mesin Kapal Perikanan. Mereka Belajar Cara Merawat Dan Memperbaiki Mesin Tempel, Serta Melakukan Perakitan Alat Tangkap Sederhana Yang Dapat Digunakan Nelayan Dalam Kegiatan Melaut.
Suara Nelayan: Ilmu yang Berdampak Langsung
Salah satu peserta, La Husen, nelayan dari Negeri Ureng, menyampaikan pengalamannya. Ia mengakui bahwa meski telah lama melaut, pelatihan ini memberikan pengetahuan baru yang sangat dibutuhkan, terutama dalam menangani kerusakan mesin saat di laut. Ia berharap pelatihan seperti ini dapat dilakukan secara rutin agar lebih banyak nelayan bisa memperoleh manfaat serupa.
Hari ketiga pelatihan difokuskan pada perakitan alat tangkap bubu, sebuah teknologi tangkap ramah lingkungan. Peserta diajarkan cara menyusun dan menggunakan bubu secara efektif dalam kegiatan penangkapan ikan.
Hari keempat, pelatihan ditutup dengan praktik penggunaan GPS dan fishfinder. Peserta dilatih membaca navigasi laut secara digital dan menerapkannya langsung di atas kapal untuk meningkatkan efektivitas penangkapan sekaligus memperkuat aspek keselamatan.
P
Peserta dilatih penggunaan GPS dan Fishfinder
Penyerahan Bantuan dan Sertifikat
Penutupan kegiatan dilaksanakan pada 15 Agustus 2025 oleh Kepala PPN Ambon, perwakilan PMU GEF 6 CFI Indonesia, BBPI Semarang, dan mitra industri seperti Yamaha Marine. Dalam penutupan tersebut dilakukan penyerahan bantuan mesin, sertifikat, serta penandatanganan berita acara, sebagai simbol komitmen bersama dalam mendukung pemberdayaan nelayan.
Tri Wahyu Wibowo, Instruktur BBPI Semarang, menyampaikan bahwa para peserta yang hadir telah dipilih berdasarkan kemampuan dan komitmen. Ia berharap mereka dapat menjadi pelatih di komunitas masing-masing, meneruskan ilmu yang telah diperoleh kepada nelayan lainnya. Antusiasme peserta menjadi indikator bahwa pelatihan ini sangat dibutuhkan.
Cetak Pelatih, Tingkatkan Daya Saing
Adipati Rahmat, Project Manager GEF 6 CFI Indonesia, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja sama antara KKP (khususnya Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan) dan WWF US selaku GEF Agency. Sejak dimulai tahun 2020 dan akan berlangsung hingga 2026, program ini bertujuan mendukung pelabuhan perikanan dan masyarakat nelayan di Indonesia Timur.
Menurutnya, salah satu kekuatan dari kegiatan ini adalah sifatnya yang "grounded" — langsung menyentuh kebutuhan masyarakat nelayan. Ia menjelaskan bahwa pelatihan seperti ini telah dilakukan di berbagai lokasi, seperti Teluk Wondama, Seram Bagian Timur, Kaimana, Maluku Tenggara, dan Morotai. Bahkan telah diperluas ke luar wilayah proyek awal melalui kemitraan strategis dengan PPN Ambon.
Adipati menambahkan bahwa pelatihan yang menyasar teknologi sederhana seperti GPS sangat membantu nelayan, bahkan nelayan perempuan, untuk melaut lebih aman dan efisien. Hal ini mencerminkan pendekatan blue economy yang menggabungkan keberlanjutan, inovasi teknologi, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Foto bersama peserta Perempuan Nelayan kegiatan TOT Champion Nelayan Dalam Bidang Perbaikan Mesin Kapal Perikanan, Perakitan Alat Tangkap dan Penggunaan GPS di PPN AMBON, Provinsi Maluku
Investasi dalam Sumber Daya Manusia
TOT Champion Nelayan merupakan salah satu contoh nyata bagaimana pelatihan teknis yang tepat sasaran mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat pesisir. Dukungan dari pemerintah, mitra industri, dan lembaga donor menjadikan kegiatan ini sebagai model pemberdayaan yang bisa direplikasi di daerah lain.
Dengan pelatihan ini, para nelayan tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga menjadi pelatih yang akan menggerakkan komunitasnya untuk lebih mandiri, aman, dan sejahtera. Ini adalah langkah penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi berbasis laut di kawasan timur Indonesia.
0 COMMENTS