728 x 90

CHAMPION PEREMPUAN CFI INDONESIA BERBAGI PRAKTIK BAIK DI PANGGUNG INTERNASIONAL IWC11

Bali, 22 Oktober 2026 — Dua champion perempuan binaan proyek GEF-6 CFI Indonesia, Sri Fany Mony dari Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara, dan Sintawati dari Ambon, berbagi praktik baik pemberdayaan perempuan dalam 11th GEF International Waters Conference (IWC11) di Bali. Melalui presentasi dan diskusi internasional, keduanya memperkenalkan pengalaman kelompok perempuan pesisir Indonesia dalam mengembangkan kapasitas, memperkuat usaha, dan meningkatkan peran perempuan dalam kehidupan masyarakat.

Partisipasi mereka berlangsung dalam Gender Clinic pada 21 Oktober 2026 dan Special Session 4: “Advancing GEF-9’s Broader Whole-of-Society Agenda through Women’s Empowerment and Leadership” pada 22 Oktober 2026. Dalam kedua forum tersebut, pengalaman dari tingkat komunitas menjadi bagian dari pertukaran pembelajaran dengan berbagai proyek dan pemangku kepentingan internasional.

Membawa Pengalaman Perempuan Pesisir ke Forum Internasional

Dalam Clinic 2: “How to Move from Gender Commitment to Action: A Gender Clinic for International Waters Projects” pada Rabu, 21 Oktober, Fany dan Sintawati berbagi pengalaman mengenai proses pemberdayaan perempuan melalui pendampingan GEF-6 CFI Indonesia.

Diskusi ini membahas bagaimana komitmen kesetaraan gender dapat diterapkan dalam pelaksanaan proyek, termasuk melalui pengembangan keterampilan, penguatan kelompok usaha, dan perluasan kesempatan bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi serta pengambilan keputusan di tingkat komunitas.

Clinic 2: “How to Move from Gender Commitment to Action: A Gender Clinic for International Waters Projects”

Faridatun Amalia Hasanah, Gender Specialist GEF-6 CFI Indonesia, turut berpartisipasi dalam sesi tersebut untuk berbagi pembelajaran dari pendekatan gender yang diterapkan dalam proyek.

“Bagi kami, keberhasilan pemberdayaan tidak hanya dilihat dari jumlah perempuan yang mengikuti kegiatan, tetapi juga dari kesempatan yang mereka miliki untuk mengembangkan usaha, membangun kepercayaan diri, dan mengambil peran lebih besar di komunitasnya,” ujar Amalia.

Sasi Label dan Perubahan Nyata di Tingkat Komunitas

Pada Kamis, 22 Oktober 2026, pengalaman GEF-6 CFI Indonesia kembali diperkenalkan dalam Special Session 4: “Advancing GEF-9’s Broader Whole-of-Society Agenda through Women’s Empowerment and Leadership”.

Dalam sesi ini, Amalia memperkenalkan pendekatan pemberdayaan kelompok perempuan binaan proyek, termasuk melalui inisiatif Sasi Label. Presentasi kemudian dilanjutkan oleh Fany dan Sintawati, yang menyampaikan pengalaman serta capaian kelompok mereka sebelum dan sesudah mendapatkan pendampingan proyek.

“Through the Sasi Label initiative, we aim to connect local wisdom and sustainable fisheries management with women’s empowerment and livelihood opportunities. We believe that women should not only benefit from conservation efforts, but also have meaningful opportunities to participate in local economic activities, develop their businesses, and contribute to the sustainability of their communities. Sasi Label is one of the ways we are working to strengthen that connection.” – ujar Amalia

Sasi Label menjadi salah satu pendekatan yang menghubungkan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya dengan upaya memperkuat peran masyarakat, termasuk perempuan, dalam pengembangan usaha dan produk perikanan berkelanjutan.

Fany membagikan pengalamannya dalam mengembangkan kapasitas dan kegiatan kelompok perempuan di Ohoi Watkidat.

“Bagi kami, kesempatan untuk berbagi pengalaman di forum internasional ini sangat berarti. Kami bisa menceritakan apa yang telah kami pelajari dan kembangkan bersama kelompok, sekaligus menunjukkan bahwa perempuan di desa juga memiliki kemampuan untuk berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Fany.

Sementara itu, Sintawati menyoroti pentingnya kesempatan bagi perempuan untuk terus belajar, mengembangkan potensi, dan memperluas jejaring.

“Kami berharap pengalaman yang kami bagikan dapat menjadi inspirasi bagi kelompok perempuan lainnya. Dengan kesempatan untuk belajar dan dukungan yang tepat, perempuan bisa semakin percaya diri dalam mengembangkan usaha dan mengambil peran di lingkungannya,” ungkap Sintawati.

Presentasi keduanya menjadi bagian dari diskusi yang juga menghadirkan pembelajaran dari Peru, Argentina, Guatemala, serta IW:Learn mengenai pendekatan pemberdayaan perempuan dalam proyek-proyek International Waters. Melalui presentasi, diskusi panel, dan sesi tanya jawab, para peserta bertukar pengalaman mengenai kepemimpinan perempuan dan pendekatan whole-of-society dalam mendukung keberlanjutan pengelolaan sumber daya.

Mendapat Perhatian dalam Pertukaran Pengetahuan Internasional

Di sela-sela konferensi, Fany dan Sintawati juga berkesempatan berbincang dengan Mirea Cano Vinas, Independent Senior Consultant, Gender and Safeguards Specialist di UNDP. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk bertukar informasi mengenai penerapan pendekatan gender dan safeguards, termasuk pembelajaran dari GEF-6 CFI Indonesia.

Dalam percakapan tersebut, Mirea menunjukkan ketertarikan terhadap pendekatan pemberdayaan perempuan yang diterapkan di Indonesia, khususnya bagaimana pendampingan kelompok perempuan dan inisiatif Sasi Label menghubungkan kearifan lokal dengan pengembangan usaha dan keterlibatan perempuan dalam pengelolaan sumber daya pesisir.

“Experiences such as those shared by the women champions from Indonesia offer valuable insights into how gender commitments can be translated into action at the community level. The CFI Indonesia experience, particularly its efforts to connect women’s empowerment with local knowledge and sustainable fisheries, provides an interesting example for cross-country learning.” - Mirea

Pertukaran tersebut memperlihatkan pentingnya menghadirkan pengalaman langsung dari komunitas dalam forum internasional. Melalui cerita Fany dan Sintawati, pembelajaran dari tingkat lokal dapat dibagikan oleh perempuan yang menjalani proses pemberdayaan itu sendiri, sekaligus membuka ruang diskusi dengan para praktisi gender dan safeguards dari berbagai negara.

Memperkuat Kepemimpinan Perempuan dan Keberlanjutan

Melalui GEF-6 CFI Indonesia, pemberdayaan perempuan menjadi bagian dari upaya memperkuat penghidupan masyarakat pesisir dan mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Pengembangan keterampilan, kelompok usaha, kepemimpinan, dan jejaring merupakan bagian dari proses untuk memperluas kesempatan perempuan berkontribusi dalam pembangunan komunitas.

Partisipasi Fany dan Sintawati dalam IWC11 menjadi bukti pentingnya memberikan ruang bagi champion lokal untuk berbagi pengetahuan, memperkenalkan praktik baik, dan berkontribusi dalam percakapan internasional mengenai kesetaraan gender dan keberlanjutan.

Pengalaman mereka menunjukkan bahwa perempuan pesisir bukan hanya penerima manfaat program, tetapi juga pelaku usaha, pemimpin komunitas, dan sumber pembelajaran yang dapat menginspirasi inisiatif pemberdayaan di tempat lain.

0 COMMENTS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments