728 x 90

DARI LAUT MALUKU KE MEJA MAKAN ANAK: GEF-6 CFI INDONESIA DAN PEMKAB MALUKU TENGGARA DORONG BAKSO IKAN MASUK RANTAI PASOK MBG

Penandatanganan kerja sama Dapur MBG dengan Poklahsar Sid Sarmav Sneck Ohoidertavun yang diketuai Zulfa Hayer sebagai salah satu kelompok binaan GEF 6 CFI Indonesia yang dipersiapkan mendukung penyediaan menu MBG, Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur (8/9)
Penandatanganan kerja sama Dapur MBG dengan Poklahsar Sid Sarmav Sneck Ohoidertavun yang diketuai Zulfa Hayer sebagai salah satu kelompok binaan GEF 6 CFI Indonesia yang dipersiapkan mendukung penyediaan menu MBG, Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur (8/9)

Langgur, cfi-indonesia.id – Potensi perikanan Kabupaten Maluku Tenggara terus didorong menjadi sumber pangan bergizi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir. Melalui kolaborasi GEF-6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, kelompok perempuan pengolah hasil perikanan diperkuat untuk mengembangkan produk olahan ikan yang berpotensi mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan “Kolaborasi Pembelajaran Terbaik GEF-6 CFI Indonesia dan Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara dalam Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan sebagai Alternatif Menu MBG”, yang berlangsung pada 8–10 September 2026 di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur. Praktik pembuatan bakso ikan dilaksanakan di Rumah Produksi Poklahsar Sid Sarmav Sneck, Ohoi Ohoidertavun, Kecamatan Kei Kecil.

Foto Bersama: Wakil Bupati Maluku Tenggara bersama para undangan dan 35 peserta pada pembukaan kegiatan “Kolaborasi Pembelajaran Terbaik GEF-6 CFI Indonesia dan Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara dalam Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan sebagai Alternatif Menu MBG”, yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur (8/9/2026).

Kegiatan diikuti 35 peserta dari lima kelompok pengolah hasil perikanan (Poklahsar), yakni Poklahsar Sid Sarmav Sneck Ohoi Ohoidertavun dan Vid Amalir Ohoi Wab dari Kabupaten Maluku Tenggara, serta Kerapu, Loor Un, dan Bubara dari Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Ohoi Labetawi, Kota Tual. Kegiatan ini merupakan bagian dari program GEF-6 “The Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) in Eastern Indonesia”, kerja sama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan WWF-US sebagai GEF Agency.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Wakil Bupati Maluku Tenggara, Carlos Viali Rahantoknam, yang hadir mewakili Bupati Maluku Tenggara. Rangkaian pembukaan ditandai dengan doa, sambutan, pemukulan tifa secara simbolis bersama Kepala BPOM Ambon, serta penandatanganan kerja sama dengan Poklahsar Sid Sarmav Sneck Ohoidertavun yang diketuai Zulfa Hayer sebagai salah satu kelompok yang dipersiapkan mendukung penyediaan menu MBG.

Wakil Bupati Maluku Tenggara, Carlos Viali Rahantoknam, menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan “Kolaborasi Pembelajaran Terbaik GEF-6 CFI Indonesia dan Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara dalam Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan sebagai Alternatif Menu MBG” di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur (8/9/2026).

Dalam sambutannya, Carlos menyampaikan apresiasi kepada KKP dan GEF-6 CFI Indonesia yang telah membangun kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara untuk mengembangkan potensi perikanan lokal sekaligus mendukung pelaksanaan MBG.

Menurut Carlos, sektor perikanan merupakan salah satu penopang penting perekonomian daerah. Kabupaten Maluku Tenggara memiliki potensi besar pada perikanan tangkap dan budidaya, termasuk usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Karena itu, menurutnya, diperlukan pendekatan pembangunan yang lebih kolaboratif, terutama di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.

“Kita tidak bisa lagi bekerja dengan cara-cara lama. Kita harus cerdas, kolaboratif, inovatif dan menjalin mitra pembangunan. Kerja sama pemerintah daerah dengan GEF-6 CFI Indonesia adalah langkah cerdas dalam strategi pembangunan daerah saat ini. Kita tidak bisa mengandalkan APBD 100 persen. Kita harus jemput bola dan menggandeng mitra untuk melaksanakan pembangunan,” ujar Carlos.

Menurutnya, bakso ikan dapat menjadi alternatif sumber protein dan diversifikasi pangan bagi anak-anak. Karena itu, pengembangan produk harus disertai perhatian terhadap kualitas, kebersihan, keamanan pangan, serta pemenuhan standar yang dibutuhkan dalam rantai pasok MBG.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara, Ruslan A.G. Ingratubun, menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan “Kolaborasi Pembelajaran Terbaik GEF-6 CFI Indonesia dan Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara dalam Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan sebagai Alternatif Menu MBG” di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur (8/9/2026).

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara, Ruslan A.G. Ingratubun, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah mencari terobosan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir di tengah keterbatasan anggaran pembangunan.

“Kami melihat ini sebagai peluang untuk mengembangkan potensi ikan yang ada di Maluku Tenggara menjadi produk bernilai tambah. Kelompok pengolah ikan tidak cukup hanya mampu memproduksi, tetapi juga harus memahami kualitas, keamanan pangan, pengemasan, dan kebutuhan pasar. Kami berharap pelatihan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kelompok-kelompok perempuan pesisir agar semakin mandiri dan mampu mengambil bagian dalam rantai pasok MBG,” ujar Ruslan.

Foto bersama Wakil Bupati Maluku Tenggara, Kepala BPOM Ambon, Kepala Bidang PBPH2 DKP Provinsi Maluku, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Kabupaten Maluku Tenggara, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Maluku Tenggara, para Kepala SPPG Langgur, Wealirlir, Watdek, dan Wab, serta PPN Tual, dan Ketua Poklahsar Sid Sarmav Sneck Ohoidertavun, di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur (8/9/2026).

Untuk memastikan produk memenuhi kebutuhan pasar dan standar MBG, peserta memperoleh materi dari sejumlah instansi. Dinas Perikanan Maluku Tenggara memberikan penguatan kebijakan dan strategi pengembangan perikanan daerah. BPOM Ambon membahas standar dan sertifikasi keamanan pangan, sementara Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku memberikan pemahaman mengenai Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP). Dinas Kesehatan Maluku Tenggara membahas keamanan pangan dan PIRT, sedangkan Korwil SPPG Maluku Tenggara memberikan perspektif mengenai kebutuhan gizi serta standar keamanan pangan produk olahan ikan untuk menu MBG.

Dari sisi GEF-6 CFI Indonesia, kegiatan ini tidak sekadar dipandang sebagai pelatihan teknis. Ahadar Tuhuteru, Knowledge Management dan M&E Specialist mewakil Project Manager PMU GEF-6 CFI Indonesia, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pembelajaran proyek dapat diteruskan dan direplikasi setelah program berakhir.

“Ini bukan hanya tentang pelatihan. Ini adalah kesempatan untuk melihat kembali pembelajaran terbaik yang sudah kita bangun dan memastikan pembelajaran itu dapat terus berjalan setelah proyek berakhir,” ujar Ahadar.

Ahadar Tuhuteru, Knowledge Management dan M&E Specialist mewakili Project Manager PMU GEF-6 CFI Indonesia, menyampaikan sambutan secara daring melalui Zoom dalam kegiatan “Kolaborasi Pembelajaran Terbaik GEF-6 CFI Indonesia dan Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara dalam Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan sebagai Alternatif Menu MBG”, yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur (8/9/2026).

Memasuki tahap akhir pelaksanaan pada 2026, GEF-6 CFI Indonesia telah menjangkau lebih dari 50 desa dan sekitar 6.878 nelayan, dengan keterlibatan perempuan sekitar 48,86 persen. Pembelajaran tersebut terus direplikasi melalui penguatan kelompok perempuan pesisir dan pengembangan women champion sebagai penggerak di tingkat masyarakat.

Pada 2026, replikasi praktik baik diperkuat dengan melibatkan sekitar 100 perempuan anggota kelompok baru di lokasi KNMP Kota Tual, Kabupaten Buru, dan Kabupaten Konawe. Perempuan champion dari kelompok binaan sebelumnya turut menjadi instruktur untuk berbagi pengalaman dan keterampilan kepada kelompok baru. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dapat diteruskan dan dikembangkan oleh masyarakat sendiri.

Ahadar menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah pelatihan, tetapi dari kemampuan kelompok melanjutkan usaha secara mandiri dan adanya kepemilikan pemerintah daerah terhadap praktik baik yang telah dikembangkan.

“Pengelolaan perikanan yang berkelanjutan tidak hanya cukup berbicara tentang ikan dan laut. Kita harus berbicara tentang keluarga nelayan, perempuan pesisir, pendapatan rumah tangga, kelompok masyarakat, akses pasar, keamanan pangan dan masa depan generasi berikutnya,” katanya.

Melalui pendanaan GEF-6 CFI Indonesia, para peserta mendapatkan dukungan peralatan pengolahan bakso ikan, antara lain freezer, mesin penggiling, mesin pencetak bakso, panci bakso, serta berbagai peralatan pendukung lainnya dalam kegiatan “Kolaborasi Pembelajaran Terbaik GEF-6 CFI Indonesia dan Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara dalam Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan sebagai Alternatif Menu MBG.”

Peluang integrasi produk perikanan lokal ke dalam rantai pasok MBG menjadi contoh bagaimana pembelajaran proyek dapat dihubungkan dengan agenda pembangunan nasional. Rantai nilai tersebut dimulai dari ikan hasil tangkapan nelayan, diolah oleh kelompok masyarakat khususnya perempuan pesisir, memenuhi standar mutu dan keamanan pangan, kemudian masuk ke rantai pasok MBG sehingga manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat pesisir.

Sebelumnya, GEF-6 CFI Indonesia juga telah mendukung penguatan kelompok perempuan pengolah hasil perikanan di Maluku Tenggara. Pada 2025, sebanyak 40 perempuan dari delapan kelompok usaha mendapatkan pelatihan mengenai legalitas usaha, keamanan pangan, dan kesiapan produk untuk mendukung rantai pasok MBG

Tim Ahli Gizi SPPG Korwil Maluku Tenggara turut mendampingi proses pembuatan bakso ikan sebagai alternatif menu MBG di rumah produksi Ketua Poklahsar Sid Sarmav Sneck Ohoidertavun, Kabupaten Maluku Tenggara (10/9/2026).

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara bersama dinas terkait, SPPG, kelompok pengolah ikan, dan mitra pembangunan perlu memastikan hasil pelatihan tidak berhenti di ruang belajar, tetapi berkembang menjadi usaha yang mandiri dan berkelanjutan.

“Program boleh berakhir, tetapi pembelajaran tidak boleh berhenti,” tegas Ahadar.

Dari Maluku Tenggara, kolaborasi ini menunjukkan bahwa laut tidak hanya menyediakan ikan, tetapi juga membuka peluang bagi perempuan pesisir untuk menciptakan nilai tambah, memperkuat ekonomi keluarga, dan berkontribusi pada pemenuhan gizi anak-anak Indonesia. Ketika ikan dari nelayan lokal dapat diolah oleh masyarakat sendiri dan hadir di meja makan anak melalui rantai pasok yang memenuhi standar, keberlanjutan perikanan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan.

 

0 COMMENTS

Notice: fwrite(): Write of 158 bytes failed with errno=122 Disk quota exceeded in /home/cfiindo1/public_html/core/xpdo/cache/xpdocachemanager.class.php on line 226

Notice: fwrite(): Write of 159 bytes failed with errno=122 Disk quota exceeded in /home/cfiindo1/public_html/core/xpdo/cache/xpdocachemanager.class.php on line 226

Notice: fwrite(): Write of 161 bytes failed with errno=122 Disk quota exceeded in /home/cfiindo1/public_html/core/xpdo/cache/xpdocachemanager.class.php on line 226

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments